Sejarah dan Ciri-Ciri Denisovan (hominini denisova)

Denisovan atau hominini denisova adalah subspesies manusia purba yang tersebar di Asia selama zaman Paleolitikum pada lapisan Bawah dan Tengah (berkisar 30.000 sampai 14.500 tahun yang lalu di Guinea Baru). Menurut taksonomi, mereka disebut juga sebagai Homo denisova, H. altaiensis, atau H. sapiens denisova.

Denisovan
Contoh gambar ilustrasi manusia denisovan

Penemuan spesimen kerangka Denisovan ditemukan di Gua Denisova dan spesimen tunggal dari Gua Baishiya Karst di Dataran Tinggi Tibet di Cina. Mereka hidup di berbagai habitat termasuk hutan, tundra ataupun gunung. Bukti DNA menunjukkan bahwa mereka memiliki kulit, mata, dan rambut yang gelap, dan memiliki bentuk wajah seperti Neanderthal. Akan tetapi, mereka memiliki gigi geraham yang besar seperti pada manusia purba Pleistosen Tengah dan Akhir.

Adapun penemuan dari anatomi Denisovan antara lain;
  • tulang jari,
  • tiga fragmen gigi,
  • fragmen tulang panjang,
  • tulang rahang parsial, dan
  • fragmen tulang tengkorak parietal.

    Ciri-ciri manusia purba denisovan atau denisova hominin antara lain;
  1. Memiliki struktur tubuh seperti halnya Neanderthal.
  2. Memiliki wajah yang panjang, luas, dan menonjol.
  3. Mempunyai hidung besar.
  4. Bentuk dahi miring.
  5. Rahang yang menonjol.
  6. Tengkorak memanjang dan pipih.
  7. Bagian dada dan pinggul yang lebar.
  8. Memiliki susunan gigi Denisovan lebih panjang daripada Neanderthal dan manusia modern secara anatomis.
  9. Memiliki kulit gelap.
  10. Mempunyai Rambut cokelat.
  11. Warna mata cokelat.

Sejarah Manusia Purba Denisovan


Penemuan homini denisova pertama kali ditemukan di
Gua Denisova yang berada di Siberia, Rusia di Pegunungan Altai dekat perbatasan dengan Kazakhstan, Cina dan Mongolia. Dalam penamaan (manusia purba denisovan) pada awalnya bernama Denis (Dyonisiy) dari seorang pertapa Rusia yang tinggal di sana pada abad ke-18. Gua ini awalnya dieksplorasi pada 1970-an oleh ahli paleontologi Rusia Nikolai Ovodov.

Peneliti Michael Shunkov menemukan tulang jari seorang hominin betina remaja yang semula berusia 50.000 hingga 30.000 tahun yang lalu di gua tersebut. Spesimen ini awalnya bernama X-woman karena DNA mitokondria matrilineal (mtDNA) yang diekstraksi dari tulang menunjukkan bahwa ia termasuk dalam hominin kuno yang baru, yang secara genetik berbeda dari manusia modern dan Neanderthal.

Perjalanan hidup manusia purba denisovan tampaknya pernah bermigrasi melewati Garis Wallace. Penemuan spesimen ditemukan di dua lokasi. Jejak DNA Denisovan pada manusia modern menunjukkan bahwa mereka tersebar di Asia Timur dan Eurasia barat.

Ahli genetika Guy Jacobs mengidentifikasi tiga populasi Denisovans yang berbeda, masing-masing tersebar di (Siberia dan Asia Timur), (Pulau Papua dan pulau-pulau terdekat), dan (Oseania). Denisovan kemungkinan telah melintasi Garis Wallace ke Wallacea dan juga Sahul (Papua Nugini dan Australia). Manusia Denisovan hidup secara berkelompok dan memiliki pola hidup nomaden.

Gua Denisovan
Contoh gambar lokasi spesimen kerangka hominini denisovan yang ditemukan gua Denisova

Penemuan manusia purba Denisovan ditemukan di Gua Denisova dan Okladnikov di Pegunungan Altai Rusia dan penemu diantaranya Michael Shunkov dan Anatoly Derevianko. Gen dari Denisovan dimiliki oleh orang Eurasia lainnya mungkin telah diwarisi dari neanderthal, karena hubungan genetik mereka dengan Denisovan dan sangat mungkin bahwa neanderthal dan Denisova mewarisi gen dari Homo heidelbergensis.

Penelitian DNA mitokondria (mtDNA) dari situs Sima de los Huesos di Spanyol telah ditemukan paling mirip dengan Denisovan. Situs ini mengandung bahan Homo heidelbergensis. Namun, harus diingat bahwa mtDNA hanya memberikan informasi garis keturunan induknya.

Keturunan dari denisovan antara lain; Melanesian, Aborigin Australian, kelompok masyarakat kecil yang tersebar di Asia Tenggara, seperti Mamanwa, orang Negrito di Filipina. Namun, tidak semua orang Negrito ditemukan memiliki gen Denisovan diantaranya; Orang Onge, Orang Andaman, dan orang Jahai Malaysia. Data tersebut menempatkan bahwa perkawinan campur terjadi di kepulauan Asia Tenggara.
M.Nurul Huda Ngelmu iku kalakone kanthi laku (ilmu itu bisa dipahami harus dengan berbagai cara)

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel