Pengertian, Ciri-Ciri dan Fungsi Kapak Perimbas

Pengertian Kapak Perimbas adalah alat dari batu yang berasal dari kebudayaan zaman paleolitikum yang memiliki sisi tajam tidak beraturan dan berbentuk masih kasar. Kapak perimbas merupakan hasil kebudayaan paleolitikum bagian bawah atau sekitar 2,5 juta tahun yang lalu. Spesimen paling kuno kapak perimbas ditemukan oleh Louis Leakey di Ngarai Olduvai (Tanzania).

Kapak perimbas disebut juga dengan chopper (kapak penetak). Kapak perimbas termasuk kedalam golongan kapak genggam, cara memakainya yaitu dengan di genggam. Bentuk ukuran dari kapak ini lebih besar dari golongan kapak-kapak genggam lainnya. Seperti contohnya; flakes (alat serpih) yang mempunyai bentuk lebih ramping dan pipih. Setiap bentuk dari masing-masing kapak batu memiliki fungsi tersendiri.

Kapak Perimbas merupakan alat yang digunakan oleh manusia paling awal yang berasl dari zaman batu. Pada masa itu manusia memiliki pola pikir yang sederhana, sehingga belum mengenal aksara.

Kapak Perimbas

Persebaran Kapak Perimbas

Asal mula kapak perimbas berasal dari kebudayaan manusia pada era paleolitikum bawah. Alat-alat ini telah dibawa oleh manusia purba yang tersebar di sebagian besar Afrika, Asia Selatan, Amerika Utara, Asia Tenggara, Timur Tengah dan Eropa.

    Persebaran kapak perimbas di dunia antara lain;
  1. Afrika (Ethiopia, Kenya, Tanzania, dan di Afrika Selatan.)
  2. Eropa (Hungaria, Swedia, Portugal, Georgia, Irlandia, Bulgaria, Rusia, Spanyol, Itali, Perancis, Jerman, Ceko, dan Inggris.)
  3. Amerika Utara (Oklahoma.)
  4. Asia (Cina, Pakistan, Israel, Iran, Thailand, Indonesia, Myanmar, dan Malaysia.)

Persebaran kapak perimbas di setiap wilayah memiliki ciri khas masing-masing. Perbedaan tersebut meliputi panjang, bahan baku dan bentuk.

Proses Pembuatan Kapak Perimbas

Proses pembuatan kapak perimbas dengan berbagai cara dan memerlukan bahan baku batu berupa kuarsa, kuarsit, basal, atau obsidian. Dalam pembuatannya seseorang harus menggunakan 2 buah batu yaitu batu pemukul dan batu yang akan dijadikan kapak. Proses ini disebut dengan reduksi litik. Proses reduksi litik mencangkup pengikisan batu untuk memperoleh bentuk dengan adanya benturan.

Ada beberapa langkah-langkah reduksi litik dalam pembuatan kapak perimbas antara lain;
  • Reduksi Proyektil merupakan teknik melibatkan batu objek yang akan dijadikan kapak dan batu landasan yang tidak bergerak atau diam. Cara ini kurang efektif dalam menentukan bentuk yang diinginkan. Sehingga pecahan atau serpihan dapat menghasilkan kurangnya kendali serpih.
  • Reduksi Bipolar merupakan teknik dengan menempatkan batu yang akan dijadikan kapak ke atas batu landasan dengan melibatkan gaya pukul ke batu kapak. Cara ini memiliki tingkat kendali tertentu, sehingga terdapat pecahan.
  • Reduksi hard hammer (palu keras) adalah sebuah teknik pada umumnya untuk mendapatkan serpihan besar.
  • Reduksi soft hammer (palu lunak) adalah teknik dengan melibatkan perkusor (pemukul) yang terbuat dari tulang, kayu ataupun tanduk.

Adapun fungsi dari kapak perimbas antara lain;
  1. Untuk merimbas kayu
  2. Memahat tulang
  3. Sebagai senjata berburu
  4. Menumbuk atau memecahkan biji-bijian
  5. Memotong daging
  6. Menguliti hewan buruan

Adapun Ciri-Ciri Kapak Perimbas antara lain;
  • Terbuat dari batu kuarsa, kuarsit, basal, atau obsidian.
  • Berasal dari kebudayaan zaman paleolitikum.
  • Memiliki sisi tajam tidak beraturan dan berbentuk masih kasar.
  • Penggunaannya dengan cara digenggam.
  • Berbentuk lebih masif.

Kampak Perimbas di Indonesia

Sejarah kapak perimbas di Indonesia perjadi pada masa berburu dan mengumpulkan makanan tingkat sederhana. Penemuan kapak perimbas banyak ditemukan di situs Kebudayaan Pacitan. Paleolitikum pacitan diperkirakan telah berusia sekitar 100.000 tahun dengan pola hidup berburu dan mengumpulkan makanan.

Penemuan kapak perimbas kebudayaan Pacitan menjadi titik awal dalam penelitian mengenai alat-alat batu di Indonesia. Situs Punung di Pacitan adalah salah satus situs terpenting di Indonesia yang memberikan informasi mengenai kehidupan pada masa pleistosen dengan peninggalan kebudayaan manusia praaksara berupa; kapak genggam, kapak penetak, kapak perimbas dan alat serpih (flakes).

Pada tahun 1935 GHR Von Koenigswald dan W.M.F Tweedie melakukan penelitian di Pegunungan Sewu (Jawa Timur) untuk menggali informasi kapak batu. Penelitian kemudian diterbitkan oleh GHR Von Koenigswald pada tahun 1936. Kemudian dari para ahli peneliti meneliti situs ini seperti; Tielhard de Chardin, Movius, de Terra, H.R van Heekeren, van Bemmelen, S. Sartono, R.P Soejono. Pada tahun 1976 Gert Jan Bartstra melakukan penelitian yang hasilnya di tuangkan dalam disertasi dengan judul "Contributions to the Study of the Palaeolithic Patjitan Culture Java, Indonesia".

Penemuan kapak perimbas di Pacitan ditemukan oleh para peneliti seperti H.R van Heekeren, P. Mark, R.P Soejono dan Basoeki pada tahun 1953.

    Tipe-tipe kapak batu menurut Movius antara lain;
  1. tipe telapak kuda (hone-hoof)
  2. tipe setrika (flat-iron)
  3. tipe serut dasar (end-chopper)
  4. tipe serut samping (side-chopper)

Alat-alat batu di Pacitan merupakan bukti tentang keanekaraman manusia yang pernah menghuni wilayah ini dan menjadi sebuah model mobilitas kebudayaan prasejarah. Manusia purba pendukung di Indonesia adalah pithecanthropus erectus.

Pola hidup manusia pada masa itu merupakan cerminan dari alat-alat batu, disebabkan oleh beberapa faktor dan perubahan sumber makanan. Evolusi ukuran binatang buruan pada kala pleistosen yang memiliki ukuran besar sedangkan kala holosen berukuran kecil, menjadikan masyarakat paleolitikum menciptakan peralatan batu berukuran besar dan masyarakat mesolitikum menggunakan peralatan batu berukuran kecil.
M.Nurul Huda Ngelmu iku kalakone kanthi laku (ilmu itu bisa dipahami harus dengan berbagai cara)

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel